Kamis, 12 November 2009

Talkshow Gramedia Matraman 10 Oktober 2009


















Acara diskusi dan book signing :-)

Read More......

Senin, 19 Oktober 2009

I Can (not) Hear on Radio A

Kisah inspiratif bisa bermula dari mana saja. Termasuk di antaranya kisah yang dituangkan oleh San C. Wirakusuma dan Feby Indirani dalam buku I Can (not) Hear.

Buku ini mengulas kisah nyata dari seorang anak bernama Gwen yang menderita infeksi saluran pendengaran bagian dalam sejak balita. Namun, sang ibu, San C. Wirakusuma tidak begitu saja menyerah pada keadaan. Dengan berbagai macam daya dan upaya, SanSan-sapaan akrab sang ibu-mampu membuat Gwen mendengar kembali.

Ingin tahu lebih lanjut kisah inspiratif ini? Stay tune on Radio A 96.7 FM pada:

Hari/tanggal: Rabu, 21 Oktober 2009
Pukul: 19.00 - 20.00 WIB
Pembicara: San C. Wirakusuma & Feby Indirani

Link terkait: http://gagasmedia.net/component/option,com_extcalendar/Itemid,28/extid,107/extmode,view/

Read More......

Rabu, 30 September 2009

I Can (not) Hear on Kick Andy!




Siapapun tentu akan terenyuh ketika mendapati buah hatinya terlahir dengan suatu kekurangan. Namun, hal itu bukan berarti membuat kita patah semangat dan mengabaikannya.

Hal inilah yang dialami oleh San C Wirakusuma, seorang ibu yang memiliki anak tuna rungu. Namun San-san, sapaan akrab San C Wirakusuma, tidak patah semangat dan terus berusaha mencarikan jalan terbaik bagi sang anak, Gwen, hingga ia akhirnya mampu mendengar meskipun tak sesempurna anak dengan pendengaran normal.

Penasaran dengan kisah mengharukan dan penuh perjuangan dalam buku I Can (Not) Hear ini? Saksikan kisah ini dalam program Kick Andy pada hari Jumat, 2 Oktober 2009, pukul 21.30 - 23.00 WIB. Saksikan tayang ulang Minggu 5 Oktober pk 13.30 - 15.00 WIB

Read More......

Senin, 07 September 2009

The Story Behind I Can (Not) Hear (2) – By Feby Indirani

Akan tetapi, saya beruntung mendapat dukungan sepenuhnya dari pihak Gagasmedia. Pemimpin Redaksi Gagasmedia sekaligus teman baik saya, Windy Ariestanty memberikan banyak arahan sekaligus berbagi pengalamannya ketika ia mengerjakan buku Tiara Lestari : Uncut Stories. Belum lagi buku-buku referensi yang ia kirimkan untuk saya baca. “Biar semangat ngerjainnya,” begitu sms Windy ketika saya mengucapkan terimakasih untuk buku-buku itu.

Di atas semua itu, saya pun diberikan kemewahan waktu untuk menyelesaikan naskah.

Saya lebih beruntung lagi karena Sansan sangat kooperatif dalam kerjasama ini. Selain terbuka, Sansan juga memberikan kepercayaan penuh kepada saya. Perlahan keraguan saya akan kemampuan saya menangani projek ini pun sirna.
Kami berdua mulai semakin intensif mengerjakan naskah. Proses transformasi pengalaman dari Sansan kepada saya ternyata membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Suatu ketika saya terpikir suatu mekanisme. Saya meminta Sansan menulis semacam diary atau jurnal dengan pengarahan tertentu dari saya. Sebelumnya saya memberikan kerangka deskripsi apa saja yang dibutuhkan dari sebuah suasana, tempat, orang-orang yang ditemui, berikut perasaan apa saja yang Sansan alami saat itu. Saya meminta semua itu dilakukan tanpa merisaukan masalah bahasa, Sansan bisa menggunakan kata apapun yang terlintas di pikirannya.

Sansan setuju untuk mencoba cara itu. Menariknya, ketika menulis jurnal Sansan bisa menyampaikan hal-hal yang selama ini belum terungkap atau terlewatkan dalam wawancara atau proses ngobrol-ngobrol kami. Cerita yang saya dulang pun menjadi semakin kaya. Karena melihat metode tersebut efektif, kami mulai menerapkannya untuk pola kerja kami selanjutnya.

Dengan pengayaan itu, saya lebih mudah menentukan alur cerita. Dari beberapa hal yang diceritakan oleh Sansan, saya memilih bagian-bagian tertentu untuk saya perdalam dan pertajam lagi. Saya akan menanyakan segala detil yang terkait dengan bagian itu untuk menuliskannya dengan lebih utuh. Kerap saya bisa mengajukan begitu banyak pertanyaan untuk hanya mendapatkan satu paragraf atau beberapa kalimat saja. (Untungnya Mbak Sansan selalu sabar menjawab dengan kebawelan saya).

Kerap juga cerita yang Sansan tulis tidak saya masukkan ke dalam naskah karena beberapa pertimbangan. Bagaimanapun itu menjadi masukan yang sangat penting untuk memperkaya wawasan dan batin saya dalam pengerjaan naskah. Tak jarang pula dari membaca jurnal itu terbetik ide saya untuk menggali cerita yang lain yang belum Sansan sampaikan.

Untuk beberapa bagian, Sansan pun menulis dengan baik sekali sehingga saya tergoda untuk mengusulkannya mempertimbangkan karir menjadi penulis setelah ini :).

Secara keseluruhan proses pengerjaan naskah memang lebih lama daripada yang saya dan Sansan perkirakan sebelumnya. Kadang kami menghabiskan waktu yang panjang untuk menemukan kata yang tepat saat hendak mendeskripsikan tes-tes pendengaran yang dijalani Gwen agar pembaca mendapatkan gambaran yang cukup termasuk di dalamnya alat-alat dan istilah-istilah teknis yang harus dijelaskan. Sisanya adalah menemukan irisan waktu yang tepat untuk pertemuan kami di antara kesibukan kami masing-masing.

Cristian Simamora, salah satu editor favorit dan juga kawan baik saya juga memberikan masukan yang sangat berharga. Cerita yang kami tulis pun menjadi lebih bervariasi dan segar berkat saran-saran ahlinya. Saya tidak bisa lebih berterimakasih lagi kepada semua nama yang telah saya sebut yang bekerja bersama saya hingga naskah ini rampung, beserta persahabatan yang terjalin seiring prosesnya.

Tapi, saya belum menceritakan satu orang lagi yang membuat semua proses ini menjadi semakin menyenangkan!

to be continued

Read More......

Minggu, 06 September 2009

The Story Behind ‘I Can (not) Hear’ (1) by Feby Indirani

Sejujurnya sebelum memulai naskah ini, isu tuna rungu adalah sesuatu yang luput dari perhatian saya.

Dan itu membuat saya tersadar betapa abainya saya. Apalagi ketika mengetahui bahwa diperkirakan sedikitnya 5000 anak dilahirkan tuna rungu setiap tahunnya di Indonesia (belum ada data resmi tentang ini). Sementara informasi tentang penanganan dan pendidikan bagi anak tuna rungu masih sangat terbatas. Banyak orang mungkin seperti saya, hanya tahu sedikit tentang Sekolah Luar Biasa (SLB) atau bahasa isyarat yang menggunakan tangan.

Saya pun memulai projek ini dengan antusias, dengan semangat orang awam yang haus pengetahuan. Dan sebelumnya aaya perlu memahami persoalan seluas dan sedalam yang saya bisa.

Maka mulailah sesi-sesi wawancara saya dengan Sansan dan John sebagai nara sumber utama. Saya bertanya, bertanya, dan bertanya. (ini tidak terlalu sulit karena saya wartawan dan bertanya bisa diibaratkan satu-satunya gigi taring yang saya punya).
Setelah 2-3 bulan saya sudah menyerap informasi cukup banyak tentang kehidupan Sansan, John dan Gwen serta seputar dunia tuna rungu. Pihak penerbit kemudian meminta saya menyerahkan draf awal.

Tapi, ada satu masalah.Sejak awal saya diminta untuk menulis dengan sudut pandang orang pertama yang mewakili Sansan. Saya ingat sempat menawar. Bolehkah saya menceritakan semua itu dengan sudut pandang orang ketiga?

Dalam tugas jurnalistik, saya terbiasa berdiri sebagai pengamat dan menuturkan segala sesuatunya kepada pembaca. Bisa dibilang amat jarang saya menuliskan reportase yang memungkinkan saya menjadi sedemikian subjektif dengan menggunakan sudut pandang orang pertama.

Tapi ini adalah memoar, bukan laporan jurnalistik. Peran saya di sini bukan memberitahu kepada pembaca apa yang terjadi, melainkan menjadi media bagi Sansan menyuarakan kisah perjuangannya membesarkan Gwen yang menjadi topik utama buku ini.

Awalnya saya sempat merasa tidak nyaman karena belum pernah menulis dengan cara seperti itu. Saya harus menulis dengan sudut pandang orang pertama, seolah saya adalah Sansan. Padahal saya adalah orang yang sebelumnya sama sekali asing dari kehidupannya, John dan Gwen.

Ada semacam kecemasan, bagaimana kalau saya mencederai pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan Sansan yang paling pribadi dengan salah menuliskannya?
Bagaimana jika saya salah memaknai kepedihannya sehingga mengungkapkan dengan cara yang tak sepantasnya? Bagaimana jika cara saya membahasakan kepahitannya keliru merepresentasikan keadaan yang sesungguhnya?

to be continued

Read More......

Rabu, 02 September 2009

Yang Menyentuh dari I Can (Not) Hear Part IV

Seperti bisa membaca kekecewaan yang terpancar dari wajah saya, Dennis dengan cepat menambahkan, “Tapi Anda tidak perlu khawatir dulu, tes ABR yang tadi dilakukan hanya tes pendengaran di frekuensi 2000–4000.”
Dahi saya mengernyit. Lagi-lagi, saya tak terlalu paham apa yang dikatakannya.
“Siapa tahu saat Gwen melakukan tes SSEP justru akan menunjukkan sisa pendengaran di frekuensi rendah 250–1000 dan frekuensi tinggi 4000–8000. Kalau ini kasusnya, artinya bayi Anda masih memiliki sisa pendengaran untuk belajar mendengar dan berbicara,” kata Dennis panjang lebar.

Jadi, dengan tes entah apa-tadi-itu kemungkinan anak saya bisa mendengar bisa terdeteksi? Dan dia masih bisa belajar mendengar dan berbicara?


Dennis menjelaskan, “Jika Gwen selesai mengonsumsi antibiotik untuk infeksi telinga tengahnya masih ada kemungkinan gangguan telinganya tidak seberat sekarang.” Mendengar penjelasan terakhirnya saya jadi lebih tenang. Ada secercah harapan bahwa mungkin pendengaran Gwen tidak seberat hasil tes hari ini.

Kami meninggalkan rumah sakit lewat pukul 18.00. Dalam perjalanan pulang, Mama sibuk bertanya-tanya, “Kenapa ya Gwen tidak bisa mendengar? Apa yang salah ya?”
Saya diam saja, tidak tahu harus menanggapi apa.

“Apa hasilnya salah ya? Rumah sakitnya saja tua begitu bangunannya, bisa jadi memang tesnya tidak benar ya....” Mama kembali mengoceh dalam kebingungannya. Saya mengangguk-angguk saja karena saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan. Saya hanya berpikir, bisa jadi pendengaran Gwen tak kunjung membaik karena antibiotiknya memang belum habis diminum.
Karena saya tak merespon, Mama tak mengajak saya bicara lagi, tapi mulutnya tetap berkomat-kamit. Begitulah kebiasaannya jika sedang berpikir keras. Sementara Gwen tertidur di pangkuan saya selama perjalanan.

SRENG... sreng... sreng..
Suara sodet beradu dengan penggorengan yang berasal dari dapur terdengar sangat bising. Begitulah jika Mama memasak, gesit sekaligus sangat berisik. Aroma sambal yang sedang digoreng itu pun begitu menyengat hidung. Saya yang sedang membaca buku di ruang tamu sambil menemani Gwen bergegas bangkit untuk menutup pintu pembatas antara dapur dengan ruang makan untuk mengurangi bau dan kebisingannya.
Tok... tok...tok....

Ketika akan menutup pintu saya melihat Mama sedang mengetuk-ngetukkan sodet ke penggorengan agar sisa sambal yang melekat di permukaannya bisa terlepas. Keras juga ya suaranya, pikir saya. Tiba-tiba terlintas di kepala saya untuk mencobakan bunyi yang sama kepada Gwen. Siapa tahu dia bisa mendengar.

Saya pun kembali ke dapur dan mengambil piring yang terbuat dari keramik dan sendok stainless steel. Lalu saya pergi ke ruang tamu, menghampiri Gwen di keretanya. Dari belakangnya saya mulai mengetuk-ngetukkan sendok ke piring. Pertama-tama di sisi samping piringnya.
Ting...ting... ting....
Gwen tak menoleh.
Lalu, saya ganti mengetuk sisi atas piring. Tik... tik... tik....
Ia masih tak menoleh.
Saya mulai mengetuk-ngetuk bagian tengah piring. Tok... tok... tok....
Tetap tak menoleh.
Suara piring itu kurang keras kali ya, pikir saya. Saya pun kembali ke dapur dan mengambil panci stainless steel. Masih dengan sendok yang tadi, lalu saya mengetuk-ngetukkannya ke bagian pantat panci.
Tok... tok... tok....
Ia tetap tak merespon. Sepertinya suara panci juga tak cukup keras. Saya pun terpikir mengambil penggorengan dan sodetnya lantas kembali masuk dapur. Mama melihat kepada saya dengan heran.
“Kenapa sih bolak-balik? Ganggu saja...,” tanya Mama.
“Nggak, saya mau tes pendengaran si Gwen,” kata saya sambil mengelap sudut mata yang berair karena sambal buatan Mama. Saya membawa penggorengan tadi ke ruang tamu. Saya pun mengetuk-ngetukkan penggorengan besi itu dengan sodet.
Tok... tok... tok....
Tok... tok... tok....
Saya merasa bunyi yang saya hasilkan sudah memekakkan telinga, tapi Gwen tetap tak menunjukkan reaksi terganggu atau apalah. Mama datang dari arah dapur dan langsung berkomentar, “Ah kamu kurang kencang membunyikannya,” kata Mama. Dia kemudian mengambil alih penggorengan itu dan menyuruh saya pindah ke depan Gwen agar dapat mengawasi ekspresinya. Ketika saya memperhatikan Gwen ternyata ia sudah terkantuk-kantuk di dalam keretanya.
Mama pun mulai memukul penggorengan itu.
TOK... TOK... TOK....
Ternyata, Mama bisa memukul dengan benar-benar keras, jauh lebih keras dari suara yang tadi saya hasilkan. Tapi ketika saya memperhatikan Gwen tak ada perubahan sedikit pun pada raut mukanya. Dia tetap saja terkantuk-kantuk dengan damai.
“Kok dia nggak dengar ya?" Mama terdengar agak panik. “Kan sudah minum antibiotik? Kok gak ada perubahan ya?
“Yah, belum habis kali, Ma...,” kata saya sambil mengambil penggorengan dan sodet dari tangan Mama dan mengembalikannya ke dapur. Dalam hati saya risau juga karena Gwen tampak sama sekali tak mendengar. Tapi saya kembali menghibur diri bahwa Gwen akan membaik setelah selesai minum antibiotiknya.
Di lain waktu, saya kerap berteriak kencang-kencang tepat di telinga Gwen.
“Weiii!”
Tetap saja, tak ada respon apa pun dari Gwen. Saya mengulanginya lagi beberapa kali, tak ada yang berubah. Yang ada Mama yang memarahi saya.
“Anak kok diteriak-teriakin begitu! Yang ada dia bisa tuli betulan,” protes Mama.
Sementara Mama masih sibuk menelpon ke sana kemari untuk menanyakan pengobatan dan dokter yang ahli masalah pendengaran, ke om saya yang dokter umum di Hong Kong, istri sepupunya yang mantan perawat juga ke temannya seorang ahli akupuntur yang berada di China. Semua saran itu kami dengarkan dan pertimbangkan. Tapi akhirnya kami putuskan untuk menunggu sampai antibiotiknya habis.

To be continued...

Read More......

I Can (not) Hear! by Feby Indirani

Menjadi seorang ibu adalah pengalaman terpenting dalam kehidupan seorang perempuan.

Betapa indahnya saat si buah hati menangis, tertawa, hingga saat mulut mungilnya mulai belajar memanggil ‘Mama’. Setiap hari yang melelahkan untuk seorang ibu pun terbayar dengan kejutan-kejutan yang menyenangkan. Menyaksikan si anak bertumbuh dengan indah, mempelajari ‘ketrampilan’ dan ‘kemampuan’ barunya, belajar melafalkan suara dan kata yang awalnya sulit dipahami adalah hadiah yang tak ternilai. Lalu perbendaharaan katanya bertambah dari hari ke hari bahkan kerap tanpa disadari. Dan waktu akan berjalan begitu cepat hingga suatu hari sang buah hati mulai menggumamkan lagu yang biasa ibunya nyanyikan untuk meninabobokkannya.

Begitu juga yang dibayangkan San C. Wirakusuma (Sansan) saat melahirkan Gwendolyne (Gwen) putri pertamanya. Namun langit di atas kepalanya seperti runtuh ketika ternyata Gwen dideteksi mengalami gangguan pendengaran berat untuk kedua telinganya. Ibaratnya bila berada di samping pesawat pun, Gwen tak akan bisa mendengar sama sekali.

Tak mudah bagi Sansan dan John, suaminya menerima kenyataan pahit itu. Mereka melakukan segala macam upaya untuk ‘mengobati’ gangguan pendengaran Gwen, berharap turun keajaiban sehingga putri mereka bisa mendengar dengan normal. Sampai pada satu titik, mereka memutuskan untuk bangkit, menghadapi kenyataan dan menciptakan sendiri ‘keajaiban' itu.

Ini adalah kisah yang inspiratif tentang perjalanan seorang ibu membesarkan putrinya yang tuna rungu hingga bisa mendengar dan berbicara seperti orang normal. Awalnya untuk mengajarkan satu kata saja seperti ‘mommy' saja kepada Gwen, Sansan bisa mengulanginya sampai jutaan kali. Setelah itu pun masih cukup panjang proses belajar yang harus dilakukan hingga Gwen akhirnya bisa melafalkan ‘mommy’ dengan sempurna.

Cerita selengkapnya silakan ditemukan di buku ini yang akan terbit segera di bulan September 2009 :)

Read More......

Senin, 31 Agustus 2009

Review I Can (not) Hear by Fahd Djibran

Mendengar(kan)

Tentang mendengarkan, apakah yang sebenarnya kita ketahui?

Suatu siang saya menerima sebuah e-mail yang berisi permohonan review sebuah buku, pengirimnya teman saya, Windy Ariestanty, pemimpin redaksi Gagas Media. “Buku ini berjudul I Can (not) Hear,” tulisnya di e-mail itu, “sebuah memoar yang ditulis oleh seorang ibu bersama seorang penulis Gagas Media tentang perjalanan membesarkan anaknya yang tunarungu menuju dunia mendengar.” Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyetujuinya. Pasalnya sederhana, ada sebuah frase yang tiba-tiba menarik saya tak sabar untuk segera membaca buku itu: dunia-mendengar. Seperti apakah dunia-mendengar bagi seorang anak tunarungu? Ini tentu kisah yang menarik.

Selang satu hari sejak saya menyetujuinya, saya mendapatkan draft naskahnya. Saya langsung men-download dan membacanya lembar demi lembar. Dan, benar saja dugaan saya, ini kisah yang menarik! Sejak halaman awal saya sudah disuguhi fragmen menarik tentang seorang gadis tunarungu, Gwendolyne namanya, yang kesal karena ibunya tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi meski ia beberapa kali mengingatkannya agat tidak ngebut. “Mom, kan aku sudah bilang jalan pelan-pelan! Are you deaf?” Katanya kesal.

Are you deaf? Apa kau tuli? Bayangkanlah celaan itu dilontarkan oleh seorang gadis tuna rungu pada kita. Barangkali kita hanya akan tertawa geli mendengarnya. Namun ada yang luput dari pemahaman kita selama ini, bahwa “mendengar” ternyata tak sama dengan “menangkap suara” dengan organ telinga. Sama seperti bahwa “melihat” tak semanya sama dengan menangkap bentuk dan warna dengan sensor mata. Barangkali Anda pernah mendengar legenda dewa pedang Jepang bernama Zatoichi, seorang samurai buta. Dikisahkan Zatoichi selalu menang menghadapi musuh macam apapun, ia membaca gerak musuhnya dengan mendegarkan langkah-langkah kaki musuhnya, ia bertahan, mengelak, menyerang, dan menaklukkan musuh-musuhnya tanpa melihat! Ia menatap dunia tanpa mata. Dari Zatoichi kita belajar hal penting: bahwa buta bukan berarti tak bisa melihat. Sebab esensi dari melihat adalah menangkap realitas sekitar dan merefleksikannya kedalam diri menjadi semacam guide atau reference untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan—keputusan yang akan diambil. Dan mendengar? Rasanya sama saja, mendengar bukan soal memiliki indera pendengaran atau tidak.

Kali ini saya belajar dari Gwendolyne, seorang gadis tunarungu yang menjadi tokoh utama dalam buku I Can (not) Hear (GagasMedia, 2009). Darinya saya belajar bahwa mendengar(kan) tak sama dengan menangkap suara-suara, mendengar(kan) adalah menangkap apa yang ada di balik suara. “Demi keselamatan terbang, kencangkan sabuk pengaman Anda!” Bukankah semua orang mendengar suara itu setiap kali akan take-off dari bandara? Tapi apakah semua orang tergerak untuk mengencangkan sabuk pengamannya untuk keselamatannya selama berada dalam pesawat? Esensi terdalam dari mendengar(kan) adalah menangkap “yang-di-balik-suara”. Dan Gwen mengajari saya tentang itu.

Tentang mendengarkan, apakah yang sebenarnya kita ketahui?

Mommy-nya Gwen pernah dibuat frustasi dalam menuntun Gwen menuju dunia-mendengar. Sebab sebelumnya Mommy hanya berpikir bahwa mendengar(kan) adalah menangkap suara-suara. Mommy pada awalnya sealalu mengasihani Gwen yang menurutnya tak bisa mendengar(kan) suara-suara—bahkan suaranya. Ibaratnya bahkan jika ia berdiri di samping pesawat terbang yang akan lepas landas, Gwen tak akan mendengar suara apa pun. Baginya, dengan kondisi seperti itu Gwen sudah pasti memiliki hambatan belajar dari lingkungan di sekelilingnya dan tidak akan bisa berbicara seperti anak normal. Sampai-sampai Gwen harus diberi cochlear implant, semacam “chip mendengar” yang ditanam di telinga kanannya agar ia bisa menangkap suara-suara. Tapi Gwen tetap sulit mendengar(kan) suara-suara. Chip itu tak serta-merta membantu Gwen untuk mendengar.

Di sinilah kisah itu di mulai. Tentang Mommy yang berjuang membantu Gwen mendengar dan berbicara, tentang Gwen yang berusaha mendengar dan berbicara. Tentang dua orang ibu dan anak yang berjuang menuju dunia-mendengar dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tentu saja, membawa Gwen menuju dunia-mendengar bukan perkara mudah. Bagi Mommy, butuh perjuangan keras dan panjang bahkan hanya untuk membuat Gwen bisa mendengar kata “Mommy” dan berhasil mengucapkannya lagi dengan benar. Mommy mengulanginya beratus-ratus kali, bahkan mungkin beribu-ribu kali, dengan penuh kesabaran dan cinta, hingga akhirnya suatu hari Gwen kecil berhasil mengucapkan kata “Mommy” dengan baik, “Maa… mii” katanya terbata-bata setelah sebelumnya terus mencoba dengan ‘e-i’, ‘i-i’, ‘a-i’, ‘ma-i’, ‘a-mi’ sampai akhirnya ‘ma-mi’.

Selesai satu kata diajarkan, jutaan kata lain menanti. Tapi Mommy tak pernah menyerah untuk menuntun Gwen menuju dunia-mendengar. Dengan harapan di dada, Mommy ingin membawanya pergi ke dunia-mendengar. Mommy ingin Gwen seperti laiknya manusia tanpa gangguan pendengaran. Dan semustahil apa pun itu kedengarannya, Mommy tak pernah kenal kata menyerah.

Sebagai sebuah memoar yang diangkat dari kisah nyata, I Can (not) Hear menyajikan kisah indah sekaligus menyentuh yang mengajari kita dari dua sisi sekaligus. Sisi pertama tentang seorang ibu yang tak pernah menyerah dan penuh cinta menuntun anaknya yang tunarungu menuju dunia-mendengar tadi—agar kelak ia bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya—perjuangan cinta seorang ibu yang sangat menyentuh sekaligus menggetarkan. Kedua, tentang anak itu sendiri, Gwendolyne, yang mengajari kita bahwa mendengar(kan) adalah bukan tentang menangkap sauar-suara, tapi lebih dari itu, mendengarkan adalah menangkap sesuatu-di-balik-suara—sesuatu yang kadang-kadang tak bisa benar-benar ditangkap bahkan oleh mereka yang mampu mendengar suara-suara secara sempurna.

Setiap hari kita mendengar suara-suara, mendengarkan ajaran demi ajaran, pelajaran demi pelajaran, hikmah demi hikmah—tapi kita juga sering kali gagap menangkap hal-hal penting di balik suara-suara. Suara adalah bentuk lain dari cinta dan kasih sayang Tuhan, kata seorang Sufi, tapi bukankah kita lebih sering gagal menangkap “yang-di-balik-suara” (cinta dan kasih Tuhan tadi) sebagai hal penting yang seharusnya kita tangkap. Barangkali Gwen benar, suara hanyalah medium bagi cinta. Telinga hanyalah antena untuk menangkap cinta yang dikirim pemilik hidup agar maknanya menjadi pijar yang membuat hidup kita bercahaya. Dengan keterbatasan pendengarannya, Gwen tetap bisa menangkap cinta dari balik suara-suara Mommy yang samar-samar—dari hidup.

Kadang-kadang saya berpikir, betapa bodohnya kita yang mampu mendengar(kan) suara-suara dengan sempurna, tetapi selalu gagal menangkap hikmah, pelajaran, cinta dari balik suara-suara. Rasanya kita harus belajar pada Gwen dan semua orang yang mendengar(kan) seperti caranya mendengar(kan) cinta—mendengar(kan) hidup.

Tentang mendengarkan, apakah yang sebenarnya kita ketahui?

Paul Tillich, seorang teolog dan filsuf kenamaan asal Amerika pernah berkata, the first duty of love is to listen: ibu yang mendengarkan anaknya, anak yang mendengarkan orang tuanya, pasangan yang saling mendengarkan, tuhan yang mendengarkan doa-doa umatnya, manusia yang mendengarkan pesan dan cinta Tuhannya. Pertama-tama, mencintai adalah tentang mendengarkan.

Akhirnya, mari kita menuju dunia-mendengar. Dan pertama-tama, I Can (not) Hear adalah buku yang saya rekomendasikan.

Read More......

Yang Menyentuh dari I Can (Not) Hear Part III

Ruangan itu sangat luas dan tak banyak perabot di dalamnya. Di dalam ruangan itu ada dua ruangan yang disekat dengan curtain. Satu ruangan berisi ranjang pasien dan di ruangan satunya lagi ada mesin-mesin dan peralatan yang kelihatan sangat rumit. Setelah Gwen dibaringkan di ranjang pasien, Dennis mendekati ranjang Gwen sambil mendorong mesin dengan kabel-kabel. Dennis lalu mangambil koin dan menggosok-gosokkannya di dahi Gwen. Saya sempat gusar melihatnya.

“Kenapa dahi anak saya mesti digosok dengan koin sampai merah begitu? Itu kan sakit?”
“Oh, ini supaya tempelan kabelnya bisa melekat dengan sempurna untuk hasil yang maksimal,” jawab Denis santai.

Saya hanya bisa menelan ludah dan pasrah. Setelah itu dengan cekatan dia menempelkan kabel-kabel di kepala Gwen. Satu di dahi bagian depan, dua kabel dilekatkan masing-masing di tulang mastoid (di belakang telinga) kiri dan kanan, sementara satu lagi dilekatkan di tulang pipi sebagai grounding.

Gwen terbaring dengan kepala penuh dengan kabel. Tubuhnya yang kecil jadi terlihat begitu rapuh dalam keadaan tak sadar seperti itu. Pandangan saya beradu dengan pandangan Mama. Di matanya saya menemukan betapa ia terluka menyaksikan cucunya mesti melalui serangkaian tes panjang dan melelahkan di usia yang masih sangat muda.
Dari layar monitor 10 inch kami melihat grafik yang bergerak naik turun.

Kami menunggu jalannya tes pendengaran tersebut Di tengah tes, Mama sempat berkomentar, “Tuh ada kok, ada responnya. Lihat di monitor, ada gerakan naik-turun.”
Saya mengangguk tanpa memberi komentar. Pikiran saya seperti kosong. Mata saya tak putus mengamati grafik pada monitor meskipun tak mengerti artinya. Kelihatannya grafik itu memang bergerak naik turun. Mungkin Mama benar.

Setelah tesnya selesai, Dennis menunjukkan grafiknya kepada saya sambil menjelaskan bahwa dari hasil tes ABR. Grafik itu hanyalah berupa garis naik turun seperti rumput yang saya pun tak mengerti membacanya.

“Gwen tidak menunjukkan respon terhadap suara sampai yang kerasnya 100 decibel,” ujar Dennis.
Saya tidak mengerti apa yang dia maksudkan.
“Tapi ini kan grafiknya naik-turun, berarti otaknya respon saat mendengarkan bunyi yang di berikan, bukankah begitu?”
“Grafik ini naik-turunnya tidak signifikan dan agak mendatar,” sahut Dennis. “Artinya otaknya tidak merespon terhadap suara. Berdasarkan tes ini, Gwen mengalami gangguan pendengaran berat,” ujarnya.

Saya tak bisa berpikir. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya seperti tidak mampu saya cerna. “Apa sih artinya 100 decibel?”
“Itu artinya saat suara yang kencangnya 100 decibel dibunyikan, Gwen belum mendengar suara tersebut. Jadi kalau pun Gwen berdiri di samping pesawat terbang yang akan lepas landas, dia belum mendengar suara tersebut, karena dia tidak mempunyai sisa pendengaran bahkan sampai 100 decibel.”

Saya merasakan hawa dingin mulai merambati ujung kaki dan tangan saya.
“Kalau dia tidak mendengar suara 100 decibel, di decibel berapa dia bisa mendengar?“
“Well, pada tes hari ini, saya tidak mencoba di atas 100 db karena itu level maksimum suara keras yang bisa dikeluarkan mesin ini,” ujar Dennis.
Saya terdiam. Jadi sampai suara paling keras pun Gwen tak bisa mendengar?
“Tapi ada tipe tes lain yang bisa mencoba di atas 100 decibel dan bahkan bisa mengetes pendengaran di setiap frekuensi secara lebih spesifik. Namanya tes SSEP. Kalau Anda berminat….”

Kata-kata selanjutnya sama sekali tak saya dengarkan. Suaranya hanya terdengar seperti dengung lebah. Pikiran saya kusut. Yang ada di kepala saya hanyalah, Oh Tuhan, mesti berapa banyak tes lagi yang harus dilakukan? Kapankah mempi buruk ini akan berakhir?

To be continued...

Read More......

Review I Can (not) Hear by Roos (GoodReads Indonesia)

Saya rasa Gwen adalah anak yang beruntung memilikii seorang ibu yang kuat, tegas disiplin tapi juga lemah lembut hatinya. Juga mempunyai ayah dan nenek yang selalu mengerti, menjaga, dan mendukung apa pun yang menjadi keinginan dan kebutuhan Gwen. Saya juga salut terhadap kejelian orangtua terutama sang Ibu dalam menempatkan Gwen dengan memilih lingkungan yang tepat meski tidak mudah agar Gwen tumbuh dengan maksimal, seperti keputusan tinggal di Australia selama hampir 3,5 tahun ataupun keputusan untuk menempatkan JIS sebagai sekolah pilihan untuk Gwen.

Buku ini juga mengingatkan pengalaman-pengalaman awal saya sebagai fisioterapi di sebuah Stroke Center. Bagaimana perjuangan pasien stroke untuk mengatasi atau lebih tepatnya beradaptasi dengan keterbatasannya bukan dengan cara menghilangkan atau mengubah keterbatasan tersebut. Memanfaatkan keterbatasan tersebut dengan maksimal sehingga para pasien tidak dianggap sebagai orang yang disable atau cacat. Meskipun dengan usaha dan perjuangan mental, pikiran dan tenaga untuk mencapai hasil yang maksimal benar-benar bukan usaha yang mudah. Itu yang saya lihat dari Gwen sejak ia berusia bayi, Gwen menunjukkan kemampuan belajar yang luar bisa. Juga Ibu Gwen yang tanpa lelah mengajarnya untuk berbicara yang benar, baik itu dari intonasi maupun kejelasan kata sehingga Gwen tidak terlihat sebagai anak yang tuna rungu, lebih terlihat seperti anak yang normal.

Saya sempat menitikkan air mata ketika membaca kejadian Gwen bersikeras tidak mau memakai stokingnya di buku ini. Dan ibu, nenek bahkan ayahnya,John sempat memukul Gwen gara-gara masalah tersebut. Bagi saya, di sinilah penting perhatian dan komunikasi antara orangtua dan anak. Ketika itu Gwen akhirnya terpaksa mau memakai stoking gara-gara diancam akan ditinggal di rumah sendiri oleh orang tuanya. Pada saat malam, seusai acara, ketika sang ibu membantu Gwen melepaskan stoking, ia baru mengetahui alasan mengapa Gwen menolak memakai stoking.

Ternyata alasan Gwen tidak mau memakai stoking adalah karena tidak ingin merusak kuteks di kuku jari-jari kakinya. SanSan dan John sangat menyesal terpaksa memukul Gwen sebelumnya karena salah mengartikan keinginan Gwen.

Buku yang membuat saya kagum terhadap seorang ibu, seperti SanSan. Tidak saja suka dukanya, tapi perjuangannya dalam menghadapi Gwen dan perjuangannya untuk berbagi pengalaman dengan orangtua anak-anak tuna rungu di Indonesia. Salut.

Buku yang menambah pengetahuan dan layak dibaca!

Read More......

Selasa, 25 Agustus 2009

Yang Menyentuh dari I Can (Not) Hear Part II

Beberapa menit sebelum pukul 2, pintu dibuka. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan jubah putih muncul.

“Gwendolyne Muljono!” panggilnya.
Saya dan Mama berdiri. Usia pria berbaju putih itu masih muda, sekitar akhir 30-an. Kulitnya coklat dan matanya tidak sipit. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Dennis Au, audiologist yang akan melakukan tes pendengaran untuk Gwen.
“Asal Anda dari mana?” ujarnya beramah tamah.
“Indonesia,” sahut saya singkat.
“Oya? Bapak saya asal Surabaya lho, baru tahun 1950-an pindah ke China,” Dennis bercerita dengan ramah.
Saya hanya mengangguk-angguk saja menanggapi ceritanya. Oh, pantas saja matanya tidak sipit, pikir saya. Dennis kemudian mengantar kami ke ruangan lain. Ia menjelaskan bahwa kami sedang menuju gedung baru untuk THT.
“Ruang tunggu tadi itu gedung lama, makanya kondisinya memang seperti itu. Akan segera dilakukan renovasi juga....”

Suara Denis terdengar seperti gaung yang mengambang di sekeliling saya. Perasaan saya saat itu sangat tegang dan saya serasa berada di dunia saya sendiri. Setibanya kami di gedung baru bagian THT, kami dipersilakan menunggu sementara Denis masuk ke dalam kantornya. Lampu-lampu di ruang tunggu di sini banyak sehingga ruangan tampak terang. Kain yang melapisi kursinya terlihat bersih dan baru dengan busa jok yang masih tebal. Tak lama kemudian, Dennis keluar dari ruangan dengan membawa secangkir air di tangan kirinya dan sirup di kontainer kecil di tangan kanannya. Sirup itu ternyata adalah obat tidur.

“Selama menjalani tes ABR, anak harus berada dalam keadaan tidur. Tujuannya, supaya mendapatkan respon otak yang benar-benar berasal dari rangsangan yang didapat oleh telinga dan bukan indera lainnya,” ujar Dennis.
Sesaat saya dan Mama saling berpandangan. Minum obat tidur? Jangankan obat, memberinya makanan dan susu saja selama ini selalu susah. Setiap menyadari sesuatu didekatkan ke mulutnya, Gwen meresponsnya dengan menangis.
“Oke, Mama yang pegang Gwen ya,” kata saya.

Mama memangku Gwen dengan satu tangan menahan kepalanya dan tangan yang lain memegangi kedua tangannya. Sementara saya menekan kedua pipinya agar mulutnya membentuk huruf ‘O’ sambil berusaha memasukkan obat.

Gwen melawan dan tangisannya semakin keras. Saya menahan kakinya yang masih menendang-nendang. Tapi perlawanannya pun semakin menjadi. Akhirnya, ia muntah. Sisa susu dan bubur sarapan pagi keluar tak hanya dari mulut, tapi juga dari hidung. Semua bajunya basah terkena muntah. Mama membersihkan bekas muntahnya dan saya mengganti pakaiannya.

Tadinya, saya berharap ada obat yang sempat masuk ke mulutnya. Tapi sampai 15 menit kemudian ternyata Gwen tak kunjung tertidur. Artinya, obat tadi memang sudah dimuntahkan seluruhnya. Saya dan Mama sempat saling berpandangan. Perjuangan untuk membuatnya menelan obat harus dimulai dari awal lagi.

Untungnya pada kali kedua tak sesulit kali pertama tadi. Sepertinya Gwen sudah kehabisan tenaga juga untuk melawan. Berhasil. Dia tertidur hanya dalam waktu 10 menit. Saya menggendong Gwen masuk melalui pintu berwarna merah jambu.

To be continued...

Read More......

Jumat, 21 Agustus 2009

Yang Menyentuh dari I Can (Not) Hear Part I

BERSAMA Mama, saya membawa Gwen untuk tes pendengaran di sebuah rumah sakit tua di daerah Sheung Wan. Hari itu, Gwen akan mengalami tes ABR (Auditory Brainstem Response) untuk melihat grafik respon otak saat diberi bunyi. Begitu memasuki ruang tunggu rumah sakit itu, bau sumpek langsung menyergap hidung saya. Tak ada jendela di sana sehingga sinar matahari tak bisa menembus masuk. Hanya lampu neon yang sudah mulai buram yang menerangi ruangan itu. Dinding yang sudah memudar warnanya itu dibiarkan kosong tanpa hiasan apa pun.

Saya dan Mama duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu yang kelihatan berdaki. Di seberang kami ada dua orang wanita paruh baya yang sedang bercakap-cakap dan satu orang pria tua yang juga sedang menunggu. Kedua wanita itu bicara dengan suara yang sangat keras tak terlalu abai dengan situasi di sekeliling mereka.

Ketika kami duduk, salah satu wanita tua yang berambut pendek dan penuh uban mulai memperhatikan kami. Wajahnya kelihatan bertanya-tanya. Setelah beberapa saat akhirnya keluar juga pertanyaan yang ada di benaknya.

“Anda mau tes pendengaran?”tanyanya kepada Mama.
“Iya,” jawab Mama.
“Apakah pendengaran Anda kurang baik?’ tanya wanita tua itu, lagi-lagi dengan volume suaranya yang sangat keras.
“Bukan saya. Cucu saya yang mau tes pendengaran. Dia tidak mendengar.”
“Bayi ini?” sahut wanita itu dengan muka kaget dan tidak percaya. “Dia tidak dengar? Mana mungkin? Siapa yang bilang? Dia dengar kok, tadi saat kami bicara dia melihat ke arah kami!” ujarnya
“Dia dengar kok!” kata si wanita itu lagi meyakinkan.
Mama menjawab. “Iya, kadang kami juga merasa bahwa dia mendengar. Tapi dokter bilang dia tidak mendengar.”
Saya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rasanya tidak ada energi lebih untuk sekadar berbasa-basi menanggapi wanita tua tadi. Gwen berada di pangkuan saya. Dia melihat ke sana kemari. Sambil sesekali menggumam, “M...mm .. m…. ng... ng….”
Dengan perasaan kacau, saya mempererat pelukan saya kepada Gwen.
“Nah, tuh dia lagi ajak bicara,” kata wanita itu lagi. “Dia dengar omongan kita kok!”

Saya menghela napas. Dalam hati, saya sangat berharap apa yang dia katakan benar. Di usia separuh baya wanita itu pasti sudah banyak pengalaman melihat perkembangan anak-anak.

To be continued...

Read More......

Testimoni Pembaca

Buku ini wajib dibaca oleh semua orang tua. Buku ini sangat mengharukan dan inspiratif. Buku ini menceritakan perjuangan seorang ibu yang tidak menyerah kepada nasib tetapi berjuang pantang menyerah untuk mengubah nasib itu menjadi suatu berkah yang sangat berharga. Buku ini juga memberikan banyak pelajaran dan tips-tips yang sangat berguna bagi orang tua yang memiliki anak-anak tuna rungu maupun tidak. Semangat kepada semua ibu ! Anak-anak yang hebat adalah hasil perjuangan ibu-ibu yang hebat.
(Rina Jayani, ibu dari Ramzy, seorang anak tuna rungu. Yayasan Indonesia Mendengar)

"Salut,itulah kata pertama yang terlontar dari mulut saya setelah saya selesai membaca buku I can (not) hear. Ya, sebuah buku yang dapat menjadi panutan dan inspirasi bagi kita semua, juga mengingatkan kita bahwa di dunia ini tidak ada satu masalah yang paling rumit sekalipun yang tidak dapat diselesaikan."
(Yenny Goh, ibu dari tiga putra yang manis, Medan)

Di tengah pusaran pemikiran yang cenderung simplistic-dikotomis, baik-buruk, tinggi-rendah, mainstream-pinggiran, normal-diffable, masyarakat dapat terjebak pada anggapan: yang tak berposisi pada arus utama adalah “sang lain” yang boleh dipinggirkan. Demikian pula para orang tua dalam menyikapi pengasuhan anak. Penulis buku ini mampu membangkitkan inspirasi dan memberi kontribusi bagi para pembacanya, anak adalah amanah terbesar llahi, dan hanya dengan kasih sayang tanpa bataslah, modal untuk mengasuhnya. Ini diperlukan agar sang anak mampu membangun makna bagi diri dan kehidupannya, bagaimanapun keadaannya.
(Firman Kurniawan, Dosen Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Uiversitas Indonesia)

Patut dibaca oleh para orang tua..
Buku ini mengingatkan kembali.. Bahwa anak-anak, dengan segala “keunikan”-nya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah anugerah terbesar yang dititipkan kepada kita.. Proses mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak memberikan begitu banyak pelajaran yang sangat berharga, yang apabila kita dapat menarik hikmahnya, akan membuat kita semakin dewasa dan matang dalam membimbing anak-anak agar dapat tumbuh mandiri dan penuh percaya diri..
(Ita Putri Pancaningtyas)

"Membaca buku ini membuat emosi saya naik turun.Penulis berhasil menjabarkan dengan detail kekhawatiran,kekekesalan dan rasa cinta yang teramat sangatkepada si buah hati. Perjuangan yang dilakukan untuk memberikan sang anak kehidupan yang lebih baik sebenarnya adalah sebuah hal yang biasa dilakukanoleh semua ibu di dunia ini. Tapi keinginan kuat,kesabaran dan tidak gampang menerima keadaan yang ditunjukan penulis,patut membuat kita mengacungkanjempol.

Buku memoar ini membuat saya belajar pada satu hal,bahwa tidak ada kata tidak mungkin didunia ini. Bahwa dengan keinginan yang kuat, pasti selaluada jalan untuk mengubah keadaan."
(Aksara Sophiaan, Editor In Chief PT MEDIA SATU GROUP, Publisher of AREA, JUICE, and TOPGEAR)

I couldn’t hear, but now I can hear. Tadinya, saya tidak terpikir bahwa kemampuan mendengar yang saya miliki dengan terasa wajar ini sesungguhnya amat istimewa. Membaca buku ini kembali menyadarkan saya banyak hal, dari soal mensyukuri apa yang kita miliki sampai besarnya kekuatan sebuah tekad yang bisa mematahkan kemustahilan. Dikisahkan melalui penuturan seorang ibu yang membawa kita menyusuri kembali perjuangannya bersama sang putri yang berusaha mendengar dunia, kita ikut larut dalam penyangkalan, kepasrahan, hingga bentukan tekad untuk tidak menyerah pada rintangan. Dan kini, sang ibu, sang ayah, dan sang putri yang telah beranjak besar berbagi kisah inspiratif mereka, agar pengalaman dan perjuangan mereka itu tak hanya berguna bagi diri sendiri. Maukah Anda mendengarnya?
(Herdiana Hakim, Cleo Magazine)

Membaca buku ini begitu menyentuh. sebuah buku yang membuat saya 'memakai sepatu' penulisnya. Sama-sama seorang ibu jadi saya sangat mengerti apa tumpahan emosi yang dirasakannya. Saya kagum akan ketegaran penulis. Bagaimana perjuangannya menghadapi anak yang tuna rungu. Cinta kasih orang tua pada anak memang tak pernah terbatas dan kenal lelah.

Buku ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi saya. Semoga bagi Anda juga.
(Ninit Yunita, penulis dan pemilik http://www.istribawel.com/)

Sebelum membaca buku ini, saya bukan termasuk penggemar memoar. Saya cenderung suka fiksi, sebagai pelarian saja... Tetapi ternyata selama ini saya melewatkan banyak hal yang seharusnya bisa saya dapat kalau saya baca memoar, yaitu mengenal dan berempati terhadap kehidupan orang lain.

Salut untuk penulis buku ini. Tanpa banyak menggunakan metafora, tanpa banyak bertele-tele, tanpa bersikap menggurui untuk mata kuliah kehidupan: buku ini bisa memberikan pelajaran tentang banyak hal, terutama belajar bersyukur.

Love it...love it...love it...
(Cempaka Fajriningtyas, Penulis dan Pecinta Anak)

Buku ini jelas dapat menjadi inspirasi bagi sesama orangtua yang anaknya menderita gangguan
pendengaran atau tidak. Bahkan bagi para calon orangtua untuk dapat memahami dan menyikapi keadaan ketika buah hati mengalami hal yang sama seperti yang dialami Gwen. Bayangan sesi terapi dan kejadian-kejadian yang harus dilalui sang bunda dituturkan secara detail, membuat saya banyak menghela nafas dan menelan ludah. Tidak tega rasanya meneruskan membaca cerita ini. Namun, Kesabaran dan kegigihan sang bunda membakar semangat di alam bawah sadar saya untuk terus membaca dan terus percaya, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Seperti yang diutarakan sang bunda di akhir cerita… di balik setiap kejadian, selalu tersimpan hikmah dan pelajaran yang besar.
(Nessa Padmawidjaja, Mahasiswa dan seorang ibu)

Ini kisah tentang keteguhan hati, tekad yang besar, cinta yang luar biasa, dan perjuangan. Di
atas segala-galanya, ini adalah kisah tentang kualitas kemanusiaan. Sangat indah dan
menyentuh. Buku ini dapat memberikan inspirasi kepada siapa pun agar tidak mudah menyerah untuk sebuah halangan baik kecil ataupun besar dalam hidup.

(Nina Mutmainnah Armando. Dosen UI dan pengamat media, ibu dua orang anak)

Membaca buku ini, saya menemukan dua hal menjadi satu. KERJA KERAS DAN KEAJAIBAN membuahkan KEBAHAGIAAN. Cara bertutur yang sederhana dan apa adanya, tapi memberikan efek luar biasa setelah dibaca.
(Ita Sembiring, penulis dan seorang ibu)

Perjuangan San dan John untuk membuat anak mereka, Gwendolyne, yang biasa dipanggil Gwen, seorang tuna rungu, menjadi seperti anak normal lainnya—bisa mendengar—dalam buku ini membuat kita makin menyadari betapa dalam kasih orang tua terhadap anaknya, tak akan lekang dimakan waktu. Kasih yang tidak berhenti sampai di situ, tapi meluas ke orang lain di luar lingkungan keluarga mereka, yaitu dengan didirikannya Yayasan Indonesia Mendengar.
Dengan membacanya, kita pun makin dikuatkan bahwa di balik setiap kejadian selalu tersimpan hikmah dan pelajaran yang besar.
(Lenny Situmeang. Language Editor Her World Indonesia)

Sesuai dengan pekerjaan saya sebagai pendongeng anak, saya memang selalu menjadi pemerhatimengenai permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan anak. Selama ini saya terikat bathin pada anak anak penyandang autis dan adhd. Tepat nya dari sejak tahun 2002 bathin saya selalu terpakupada kedua permasalahan ini saja. Sehingga waktu saya membaca buku ini, wawasan saya terbukapada hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Rasanya sungguh merasa bersalah...

Ada kesedihan, kepiluan dan kegalauan hati seorang ibu dengan anak yg memiliki gangguan pendengaran yang tidak saya pernah pahami sebelumnya. Semoga, buku ini juga di baca para orang tua dengan anak yg sehat wal'afiat untuk lebih mensyukuri berkat yang mereka miliki.

Bacalah buku ini untuk membangun empati untuk anak anak dengan gangguan pendengaran.Kita sebagai masyarakat bertanggung jawab untuk membuat ruang tumbuh yang menyenangkanbagi mereka.
(Putri Suhendro. Pendongeng & Penyiar I-Radio Jakarta)

Buku yang mengharukan. Di dalamnya berisi pesan agar setiap orangtua tidak pernah menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Kesulitan yang hadir dalam kehidupan,
terkadang bukan sebuah ujian, sebaliknya menjadi bukti bagi orangtua menunjukkan kasih sayang kepada keluarga dan anak-anaknya. Seperti yang ditunjukkan kedua orangtua Wendolyne, mereka tak pernah menyerah agar anaknya bisa kembali mendengar.
(Wasis Wibowo. Wartawan Koran Seputar Indonesia)

I can (not) hear
Inilah buku yang sangat memikat dan menggetarkan sehingga susah diletakkan sejak awal kita
membacanya hingga tamat. Berkat perjuangannya yang sangat gigih, San, seorang Ibu dengan
semangat sekeras baja, akhirnya berhasil membuat Gwen, putri semata wayangnya yang mutlak tuli sejak lahir, dapat mendengar dan berbicara secara normal.

San menulis pada bagian akhir bukunya bahwa usahanya yang gigih itu berkat adanya intervensi terhadap gejala keterbelakangan putrinya itu sejak dini, kemajuan teknologi, kerja keras, komitmen, dan persistensi. Semua itu memang jelas terurai dalam buku ini. Dan semua itu bisa terwujud karena ia berpijak dengan kokoh pada prinsip-prinsip manajemen perilaku yang diikutinya dengan konsekuen dan konsisten, di samping berkat adanya alat bantu dengar
cochclear implant yang ditanam di dalam batok kepala Gwen. Rasanya semua itu tidak akan bisa dicapai San kalau saja ia seorang perempuan pengiba, emosional, dan lemah. Justru sifat bossy-nya ternyata banyak bermanfaat. Tentu saja bantuan penuh pengertian dan kasih sayang dari suami serta ibundanya, begitu pula sahabat-sahabatnya, banyak berperan untuk mencapai
keberhasilan itu.

San dan John, suaminya, serta beberapa orang tua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran dan menggunakan alat bantu dengar, baik konvensional maupun cochclear implani, pada bulan Juni 2006 akhirnya sepakat mendirikan Yayasan Indonesia Mendengar. Kesaksian Gwen dengan bahasa Inggris yang bagus ketika workshop di yayasan tersebut merupakan motivasi yang sangat jitu. Sebuah tindakan dan sikap yang sangat terpuji.

Buku ini benar-benar memiliki misi yang jelas dan bukan sekadar bacaan perintang waktu.
(Ismail Isdito, Bapak dari 3 putri, Bandung)

Menurut gue buku ini so touchy, membuat pandangan semua orang menjadi terbuka bahwa betapa pedihnya orang tua yang mendapatkan buah hati yang dilahirkan ke dunia ini dengan tidak sempurna. Kesedihan, Pengorbanan yang dilakukan dan akhirnya Kegembiraan yang didapat sangat diceritakan dengan detil, sehingga kita bisa larut akan semua cerita-ceritanya.

Banyak sebenarnya kejadian serupa yang terjadi di Dunia ini,namun semua belum terungkap secara luas. Buku ini bisa menjadi jalan bagi mereka yang ingin membagi kisah-kisah mereka ke masyarakat umum, sehingga curahan-curahan hati mereka yang terpendam selama ini bisa kita dengar semua. So belilah buku ini, jika kalian ingin merasakan betapa sebuah pengorbanan akan hati tercinta dapat kita dalami bersama.
(Iwed Ramadhan. Presenter TV dan penyiar hardrock fm jakarta)

Sebuah jurnal perjalanan pencarian yang sangat personal tetapi semua orang tua bisa ikut merasakannya. Sebuah perjalanan menuju kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan.
(Shafiq Muljanto. Creative Director Dentsu Strat)

Read More......

Selasa, 18 Agustus 2009

I Can (not) Hear

Diam-diam saya pernah berharap, seandainya saja Tuhan memberi anak dengan menyertakan buku manual, sepertinya hidup akan lebih mudah.

Gwendolyne adalah putri pertama saya dan John. Harus saya akui, sebagai seorang ibu baru, saya clueless—tidak tahu apa-apa. Apalagi ketika kemudian saya mendapati kenyataan bahwa Gwen memiliki gangguan pendengaran.

Dengan harapan tersisa di dada, saya mendekap Gwen erat-erat dan membawanya pergi ke arah yang benar-benar berbeda. Saya ingin Gwen seperti layaknya manusia tanpa gangguan pendengaran. Dan semustahil apa pun itu kedengarannya, harapan di dalam diri saya menolak untuk menyerah.

Inilah awal perjalanan hidup yang tak pernah diduga-duga. Kata-kata bijak itu memang benar, kehadiran seorang anak lambat laun akan memengaruhi seluruh anggota keluarga. Dan Gwen tanpa sadar baru saja mengajarkan ayah-ibunya ini tentang satu hal:

jika kejaiban tak kunjung datang, berarti tugas kitalah untuk mencari sendiri dan memperjuangkannya....

Read More......